#SaveRISMA, Fenomena Media Sosial untuk Walikota Surabaya

#SAVERISMA – Minggu lalu hingga sekarang, heboh #saveRISMA di media social facebook dan twitter menjadi menu sepanjang hari terlebih setelah tayangan @matanajwa disaksikan oleh jutaan mata seluruh pemirsa MetroTV. Kesaksiannya tentang polemik batinnya menjadikan simpati warga Surabaya tak terbendung lagi. Tumpah dalam status dan kicauan yang mendukungnya sepanjang hari.

#SAVERISMA

Sebenarnya siapa itu Risma? Mengapa dia begitu fenomenal dan dicintai oleh warga kota Surabaya?

Tri Rismaharini namanya, lulusan Teknik Arsitektur kampus ITS ini memulai karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Sebelumnya, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya sosok RISMA ini hingga akhirnya ia menjabat Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya dan menjadikan wajah Kota Surabaya yang gersang dan tak menarik itu menjadi hijau dan digemari warga Kota Surabaya. Lahan bisnis maupun lahan tidur yang menyalahi aturan disikatnya habis dan diubahnya menjadi taman kota yang digemari tak pernah sepi. Setelah itu menjadi kepala Bappeko Surabaya yang juga tak kalah moncer prestasinya.

Popularitasnya sebagai birokrat kota Surabaya yang terkenal tangguh dan kuat dalam memperjuangkan kota Surabaya menjadi konsumsi media yang rajin mengangkat namanya ke permukaan. Prestasinya memang tak mudah dicapai oleh birokrat manapun selama ujung tombak kebijakannya berlandaskan kepentingan pribadi dan bukan kepentingan publik.

Sampailah dia pada awal mula masalah besar yang kini merundungnya, POLITIK. Majunya Tri Risma Harini sebagai calon Walikota Surabaya 3,5 tahun lalu bagi sebagian besar warga Surabaya adalah campur tangan Tuhan di tengah polemik internal partai politik pengusung pencalonannya, PDI Perjuangan.

PDI Perjuangan setengah hati mengusung Risma menjadi walikota, ada semacam scenario besar saat itu yang internal PDI Perjuangan sendiri mengalami konflik di mana satu kubu menolak pencalonan RIsma karena bukan kader partai. Saat itu yang menjadi santer diangkat ke permukaan adalah calon walikota dan wakil walikota Saleh Mukadar – Bambang DH. Akan tetapi, yang terjadi adalah Risma – Bambang DH. Alhasil, jadilah Risma memenangi Pilwalkot Surabaya 2010.

Di awal masa kepemimpinannya, dia sempat diganjal isu pemakzulan walikota akibat kebijakan oajak reklame kota Surabaya yang naik hingga 25% dan sempat memunculkan penentangan di kalangan pengusaha reklame. Tapi, isu itu berlalu. Risma tetap menjalankan roda pemerintahan Kota Surabaya dengan nyaman relative tidak ada gangguan.

Dalam tiga tahun setengah masa kepemimpinannya, Surabaya menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali sebagian besar warganya. Banyak hal yang selama ini menjadi persoalan kota dan tak terselesaikan menjadi tuntas dan tanpa masalah di belakangnya.

Risma menjalankan tampuk pemerintahan Kota Surabaya tanpa wakil sejak Agustus 2013 di mana wakil walikota Bambang DH mencalonkan diri menjadi kandidat gubernur Jawa TImur dan mundur dari jabatan wakil walikota Surabaya.

Permasalahan muncul tatkala DPRD Kota Surabaya melakukan proses pemilihan wakil walikota yang di luar prosedur menurut panlih wawalkot. Terlebih pengangkatan wakil walikota sebenarnya melalui pemilihan langsung dan tidak melalui proses pemilihan di DPRD. Ada indikasi Risma dijegal dengan mengangkat wakil Walikota yang notabene selama ini adalah salah satu orang yang seringkali menjadi bagian dari permasalahan yang melingkupinya.

Lalu, apa yang harus dilakukan Risma?

Tulisan Gempur Abdul Ghofur #SaveRISMA

Comments (1)
  1. #SaveRISMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *