Hari Pahlawan : Resolusi Jihad Melawan Sekutu

Hari Pahlawan : Resolusi Jihad Melawan Sekutu

Surabaya merupakan kota Industri terbesar dan kota pelabuhan saat itu. Surabaya merupakan pusat pergerakan dan berkumpulnya santri Nahdlatul Ulama (NU) yang membentuk perkumpulan bernama Syubbanul Wathon, Pemuda Tanah Air yang kelak berganti nama menjadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO).

Para pemuda Surabaya, selain taat beragama terkenal radikal dalam menghadapi Belanda, saat mendengar rencana kedatangan Belanda dan Sekutu dengan persenjataan modernnya, berbagai organisasi pemuda bersatu. Kekerasan awal kali terjadi pada 19 September 1945, ketika dikibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato (Sekarang Hotel Majapahit).

Para pemuda Surabaya yang mudah terbakar darahnya kemudian merobek warna biru bendera Belanda dan berkibarlah Sang Merah Putih. Sehari setelah peristiwa perobekan bendera itu terjadi arak-arakan bergerak keliling kota tanpa menghiraukan peringatan tentara Jepang yang melarang membawa bambu runcing dan senjata lainnya.

Hari Pahlawan : Resolusi Jihad Melawan Sekutu

Mendekati kedatangan Sekutu dan Belanda di Surabaya, Presiden Soekarno menemui K.H Hasyim Asy’ari. Dalam pertemuan bersejarah di Pondok Pesantren Tebu Ireng, kedua pemimpin tersebut membahas situasi politik terkait kedatangan Pasukan Sekutu dibawahKomando Inggris. “Kiai, bagaimana tentang kedatangan Inggris itu, gimana umat Islam menyikapinya?” tanya Soekarno. Mendapat pertanyaan tersebut, Hasyim Asy’ari menjawab dengan tegas. “Lho Bung, umat Islam jihad fisabilillah untuk NKRI, ini Perintah Perang!” menjawab sekaligus bersedia memenuhi permintaan bantuan Soekarno menghadapi ancaman pasukan Sekutu. Soekarno meminta Hasyim Asy’ari dan warga pesantren untuk tidak segan-segan dalam bertempur.

Hasyim Asy’ari kemudian memanggil Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se-Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya untuk segera mengadakan rapat darurat, dipimpin Kiai Wahab Hasbullah. Pada 23 Oktober, Hasyim Asy’ari mendeklarasikan seruan jihad fisabilillah yang terkenal dengan istilah Resolusi Jihad. Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando. Pengajian-pengajian telah berubah menjadi pelatihan menggunakan senjata. Pada kondisi ini pesantren-pesantren didatangi para pejuang dari berbagai kalangan untuk meminta kesaktian para kiai untuk menghadapi pasukan Belanda dan Sekutu dengan persenjataan beratnya.

Ribuan kiai dan santri dari Jawa dan Madura mulai bergerak ke Surabaya. Soekarno menemui K.H Hasyim Asy’ari karena pengaruhnya yang sangat besar di kalangan umat Islam. Selain itu, pasukan PETA yang terbentuk saat itu semua komandan batalyonnya adalah ulama, diantaranya Panglima Divisi Suropati yaitu Kiai Imam Sujai, Divisi Ranggalawe Panglimanya Jatikusumo, di Jawa Barat komandan resimennya Kiai Haji Noor Ali. Pilihan Soekarno menemui K.H Hasyim Asy’ari tepat, karena mampu menggerakkan umat Islam saat itu. Dampak perangnya pun luar biasa, pertempuran Surabaya bagaikan neraka bagi pasukan Sekutu. Orang bisa mati-matian berperang karena perintah jihad tadi. Sehingga, hari Pahlawan 10 November tidak bisa dilepaskan dari Resolusi Jihad NU.

Resolusi Jihad Melawan Sekutu

Seruan jihad melawan sekutu yang dikeluarkan Hasyim Asy’ari dikenal sebagai Resolusi Jihad, yaitu perintah untuk segera meneriakkan perang suci melawan penjajah yang ingin berkuasa kembali, dan disambut rakyat dengan semangat berapi-api. Meletuslah peristiwa 10 November. Para kiai dan pendekar tua membentuk barisan pasukan non reguler Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur. Para santri dan pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hisbullah yang dipimpin oleh H. Zainul Arifin. Sementara para kiai sepuh berada di barisan Mujahidin dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah. Disamping itu, Hasyim Asy’ari meminta Bung Tomo supaya teriak “Allahu Akbar.!!” untuk menggerakkan para pemuda, jasa utama Bung Tomo saat itu sebagai orator perang.

Ada tiga poin penting dalam Resolusi Jihad itu. Pertama, setiap muslim baik tua dan muda, miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak disebut syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Jadi, umat Islam wajib hukumnya membela tanah air. Bahkan, haram hukumnya untuk mundur. Berikut ini kutipan resolusi jihad tersebut;

  1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan;
  2. RI sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong;
  3. Musuh RI ialah Belanda yang kembali ke Indonesia dengan bantuan tentara Sekutu;
  4. Umat Islam harus mengangkat senjata melawan Belanda dan tentara Sekutu yang ingin menjajah Indonesia kembali; dan
  5. Perang suci wajib bagi setiap muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, bantuan material bagi yang berada di luar radius tersebut

Fatwa jihad tersebut kemudian digelorakan Bung Tomo lewat radio untuk membakar semangat, ribuan kiai dan santri dari berbagai daerah segera menuju Surabaya. Fatwa K.H Hasyim Asy’ari ditulis 17 September 1945 kemudian dijadikan keputusan NU pada 22 November dan diperkuat pada muktamar ke-16 di Purwekorto, 26-29 Maret 1946. Dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa “…tidak akan tercapai kemuliaan Islam dan kebangkitan syariatnya di dalam negeri-negeri jajahan,” tegasnya. Atau dalam bahasa lain, syariat Islam tidak akan bisa dilaksanakan di negeri yang terjajah.

sumber : dari berbagai sumber

Hari Pahlawan : Resolusi Jihad Melawan Sekutu

Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *