Bantimurung Kerajaan Kupu-kupu atau Musium Kupu-kupu

Bantimurung Kerajaan Kupu-kupu atau Musium Kupu-kupu

Salah satu yang menarik untuk menjadikan Bantimurung menjadi Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan adalah adanya keanekaragaman kupu-kupu yang terdapat di Bantimurung ini.

Bantimurung Kerajaan Kupu atau Musium Kupu-kupu

Selain sebagai objek wisata dengan keindahan alamnya, Bantimurung juga mempunyai keanekaragaman fauna. Fauna yang terdapat di Taman Wisata Alam Bantimurung  ini adalah kupu-kupu.

Bantimurung Objek Wisata Terbaik di Sulawesi Selatan

Di objek wisata Bantimurung ini telah ditemukan sekitar 103 jenis kupu-kupu. Troides haliptron dan papilio blumei, merupakan dua jenis endemik khas Bantimurung yang merupakan objek wisata terbaik di Sulawesi Selatan. Dikarenakan keanekaragaman jenis kupu-kupu ini, Taman Wisata Alam Bantimurung terkenal di dunia sebagai Kingdom of Butterfly atau Kerajaan Kupu-kupu.

Bantimurung Kerajaan Kupu-kupu

The Kingdom of Butterfly atau kerajaan kupu-kupu, merupakan gelar kawasan Bantimurung ini yang diberikan oleh Alfred Russel Wallace, yaitu seorang pakar zoologi dari Inggris, yang pada 150 tahun silam menemukan sekitar 270 jenis kupu-kupu di sini.

Dan pada akhir tahun 70-an, Aziz Mattimu dan rekan-rekannya dari Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, melakukan inventarisasi dan menemukan 130 jenis kupu-kupu.

Sampai saat ini, semua pencatatan yang pernah dilakukan sebelumnya tidak pernah melebihi dari nilai tersebut, bahkan semakin lama semakin berkurang. Ada indikasi yang mengatakan bahwa populasi kupu-kupu di Bantimurung semakin berkurang.

Sampai saat ini, tidak ada penelitian yang membuktikan adanya kepunahan spesies kupu-kupu di Bantimurung Maros, Sulawesi Selatan ini. Banyak faktor yang menyebabkan populasi kupu-kupu Bantimurung ini berkurang.

Bantimurung Musium Kupu-kupu

Kupu-kupu sangat suka dengan warna merah. Jadi tidak heran banyak warga disekitar Bantimurung yang memakai warna merah. Tapi yang paling mengerikan adanya jaring sepanjang 2 meter yang berwarna merah juga yang siap berayun-ayun untuk penangkapan kupu-kupu di Bantimurung ini.

Itulah sedikit gambaran mayarakat di sekitar Bantimurung yang mereka lakukan pada bulan Nopember sampai April. Pada bulan-bulan itu, masyarakat sekitar Bantimurung sangatlah mudah menangkap kupu-kupu. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke perbukitan, hanya dengan mengayun-ayunkan jaring warna merah di sekitar rumahnya saja.

Sekarang timbul pertanyaan pada diriku. Apakah aktivitas ini penyebab berkurangnya populasi kupu-kupu Bantimurung ? Sekarang coba lihat foto di bawah ini

Pemandangan di atas, kurasa tidak asing lagi kita jumpai di Bantimurung. Kupu-kupu awetan tersebut banyak kita jumpai di pintu masuk Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kupu-kupu Bantimurung tersebut dapat dengan mudah kita miliki dengan variasi harga antara Rp1.000-250.000 per kupu-kupu. Harga kupu-kupu awetan Bantimurung tersebut  tergantung jenis dan kualitasnya.

Itu gambaran secara lokal di Bantimurung mengenai kupu-kupu. Lalu bagaimana dengan kupu-kupu dengan jenis Troides cellularis, Troides halipron, Troides hypolitus, Papiliogigion, Papilio sataspis, Papilio ascalaphus, Papilio blumei, Papilio adamanthus, Graphium milon, Graphium meyeri, Graphium rhesus, Graphium androcles, Graphium deucalion, Graphium auceledes dan Chilasa veiovis ?

Kupu-kupu Bantimurung jenis di atas merupakan kupu-kupu yang diminati dan diburu oleh pasar internasional. Kupu-kupu Bantimurung jenis itu di-ekspor dan dijual belikan secara online lewat internet ke manca negara.

Kondisi wajar jika ada seseorang berhasil dengan suatu usaha, pasti akan diikuti oleh orang lain. Demikian juga dengan perdagangan awetan kupu-kupu Bantimurung ini. Di pedagang kelas menengah ke bawah, perdagangan konvensional dan manual yang bertaraf lokal pasti banyak yang mengikuti. Demikian juga dengan perdagangan menengah ke atas yang melek teknologi, penggunaan internet juga akan banyak yang mengikuti juga. Berapa banyak orang-orang yang nantinya akan mengikuti jejak ini ? Yang jelas. Semakin banyak yang mengikuti maka semakin banyak pula populasi kupu-kupu Bantimurung akan semakin sulit ditemukan.

Kelestarian Kupu-kupu Bantimurung

Upaya untuk kelestarian kupu-kupu di Bantimung ini sepertinya sudah mendapat respon daripemerintah setempat. Pemerintah menyadari bahaya penurunan populasi dan mendorong warga untuk melakukan penangkaran. Tapi kembali pendanaan yang menjadi kendala di sini. Penangkaran yang serba terbatas tidak menjadi solusi dari kebutuhan para pecinta awetan kupu-kupu. Baik itu di pasaran lokal maupun internasional. Perburuan kupu-kupu di alam kembali menjadi tren di masyarakat sekitar Bantimurung.

Tapi kita tidak bisa mem-vonis bahwa aktifitas penangkapan kupu-kupu Bantimurung ini menjadi sebab utama berkurangnya populasi kuku-kupu di Bantimurung. Banyak faktor lain yang mempengaruhi ini semua. Tersedianya pakan dan makanan bagi kupu-kupu, iklim mikro yang disukai kupu-kupu, udara yang sejuk juga mempengaruhi kekerasanan kupu-kupu tetap berhabitat di Bantimurung.

Kupu-kupu tidak akan pindah habitat jika semua yang disukai mereka terpenuhi dengan lengkap. Kupu-kupu tersebut tidak akan ber-migrasi jika pakan, iklim, udara tersedia lengkap di Bantimurung.

Lalu sekarang,bagaimana dengan bukit kapur dan karst yang menjadi daya tarik pengusaha pertambangan semen dan marmer untuk exploritasi di Bantimurung ini? Yang jelas mereka punya andil besar dalam kelestarian kupu-kupu di Bantimurung ini. Dan dalam hal ini kembali pemerintah yang dapat memutuskan apa yang terbaik bagi Bantimurung.

Mari kita jadikan Bantimurung menjadi kerajaan kupu-kupu dan bukan menjadi musium kupu-kupu.

 

Comments(2)
  1. recky

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *